Ramadhan-ku Tiba, Ramadhan-ku Hilang

Gelimang maksiat tak enyah meski Ramadhan kan datang menyapa. Sungguh sedih menyayat hati. Mata dan tangan tak keras hati untuk menahan godaan maksiat yang menghampiri.

24 Sya’ban 1440 H. Tepat di bulan Sya’ban ini pula aku hadir di muka bumi menghirup udara nan sejuk lagi gratis pemberian Alloh Subhanahu Wata’ala. Sayang, azan dan iqomah yang berkumandang di kuping kanan kiri ku tak selaras dengan 10 tahun kehidupan aku di dunia ini. Ya, 10 tahun tanpa Nur Ilahi. Menyelami keyakinan lain tatkala prahara itu datang sesaat aku lahir. 10 tahun adalah waktu yang cukup lama. Masih terngiang apa saja yang pernah ku kerjakan selama 10 tahun itu. Tempat, prosesi, dan beberapa kejadian masih aku ingat.

23 tahun telah berlalu. Aku kini memiliki keyakinan yang sama dengan Ibrahim ‘alaihis salam, ajaran ketuhanan yang sama dengan yang diajarkan oleh Nabiullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Ah, ini lah keyakinan yang aku jalani saat ini. Bahkan tak sekedar keyakinan, tapi mendarah daging dalam hidup dan kehidupan ini ku jalani.

Hiruk pikuk, tambah sulam, tentu menghampiri perjalanan 23 tahun ini. Masa remaja adalah masa kelam dan masa ceria. Bagai dua sisi mata uang yang tak bisa dipisahkan. Saat ingat sisi yang satu maka sisi lainnya iri tuk diingat. Masa ceria mempelajari keyakinan baru ku. Masa ceria dalam prestasi akademik ku. Masa ceria dalan prestasi organisasi ku. Masa masa ceria dalam perjalanan seorang remaja. Tapi, masa itu dibumbui dengan ingatan kelam. Kejadian kejadian buruk, yang setelah itu aku ketahui bahwa itu salah dan tidak dibenarkan. Hingga sebuah istilah terus melekat di benak, maksiat. Ya, kejadian itu dinamakan maksiat.

Ahh, sungguh maksiat itu meski kecil tapi dampaknya akan buruk. Bahkan untuk waktu yang lama. Suatu dosa kecil atau ringan bila dikerjakan dengan rutin maka akan menjadi dosa besar. Itulah yang kini aku pahami. Baru aku paham, setelah dewasa. Sesudah 17 tahun lebih maksiat itu berlangsung. Tak terasa, merangsek banyak kebaikan dalam kehidupan ini. Hingga rutinitas Ramadhan tiba, maka begitu saja Ramadhan hilang. Gegara maksiat yang terus saja tak pelak dibungkam godaan.

Ramadhan datang, tetiba hati menjadi senang. Selang beberapa hari, hati jadi sedih tak kepalang sebab kejadian itu terulang. Siang hari. Malam hari. Otak sadar dan seluruh organ fungsionalnya seakaan berubah jadi tak sadar. Sampai kecolongan berulang ulang kali. Hati ini ibarat apel yang dipotong potong lalu didiamkan di atas meja tanpa penutup. Sensor of warning telah tiada. Muncul sensor of forgive atas kejadian berulang itu. Tak sadar bahwa itu telah merusak rasa penyesalan dan tobat.

Benih benih telah aku coba tanam di berbagai lahan yang ditemui. Sekitar 10 tahun coba diselami makna menyemai benih. Selama itu pula, tak kudapati tameng perisai yang mampu menghambat itu terulang. Harus, ya harus bisa. Terus dicoba. Menyemai benih terus kulakukan meski tak sebanyak waktu 10 tahun itu. Tersungkur diri pada Ilahi Rabbi atas maksiat yang belum mampu aku hilangkan.

Ramadhan kini datang menjelang. Lima hari lagi ia kan datang. Hati riang gembira menyambut datangnya. Berharap kebaikan kebaikan yang terencana mampu menghapus noda hitam yang tersemat di kertas putih kehidupan. Menangis tersedu agar Alloh Subhanahu wa ta’ala ridha atas amal baik yang aku lakukan, dan memaafkan amal buruk yang aku kerjakan. Ramadhan kali ini berharap berhasil jadi perisai yang mengekang kejadian itu terulang.

Sungguh aku sangat berharap. Ramadhan datang kali ini untuk melenyapkan semua keburukan dalam diri. Ramadhan bisa membawa diri menuju kesucian jiwa. Modal untuk diriku menata amal surgawi terbaik yang mampu dikerjakan. Moga Alloh mengabulkan pengharapanku ini agar tiada lagi Ramadhan-ku datang, Ramadhan-ku hilang.

……

*END*

@iyan200486

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *